Vely’S bLoG











Fallacies of Reasioning
Informal Fallacy – Linguistic

1. Accent
Maksud suatu pernyataan tergantung konteks (atau dapat diteliti dari pembicaraan orang atau cara bicara seseorang).
Menyelewengkan maksud.
2. Amphiboly
Susunan kalimat yang ambigu.
Kalimat yang tidak jelas dimana pokok persoalannya atau apakah yang sebenarnya dimaksudkan.
3. Composition
Benar untuk setiap member, belum tentu benar untuk seluruh kelas.
4. Division
Kebalikan dari composition. Benar untuk setiap kelas, belum tentu benar untuk seluruh member.
5. Equivocation
Menggunakan arti yang ambigu untuk mengakali.
6. Reification/hypostatization
Menganggap setiap kata memiliki eksistensi nyata.



Fallacies of Reasioning
Relevance – Ommision

1. Bogus dilemma
Seolah-olah hanya itulah pilihannya.
Maksudnya, hanya ada beberapa pilihan dan harus melakukan hal yang ada di dalam pilihan itu dan tidak dapat melakukan hal yang lainnya.
2. Concealed quantification
Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja
Memberitahu kepada seseorang tentang suatu yang ambigu dan membuat orang yang diberitahu juga percaya dengan mudahnya.
3. Damning the alternatives
Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah.
Memberikan suatu pernyataan yang dimana di dalam pernyataan itu terdapat beberapa pilihan dan harus memilih. Tetapi sesuatu yang benar itu hanya satu. Sehingga mau tidak mau kita harus memilih hal itu.
4. Definitional retreat
Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi.
Memberikan pernyataan yang lain setelah mendengar pernyataan dari lawannya yang membuat dirinya salah dengan mengelak.
5. Extensional pruning
Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum (atau arti literal).
6. Argumentum ad ignoratiam
Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti.
7. Argumentum ad lapidem
Kepala batu.
Fallacy seperti ini tidak bisa dilawan. Orang yang berpegang pada ‘pokoknya’ tidak bisa di ajak bicara.
8. Argumentum ad nauseam
Menggunakan perulangan agar terlihat benar.
9. One-sided asessment
Hanya melihat satu sisi masalah
Tidak melhat dari sisi yang lain. Tidak tentu benar, karena mungkin saja pemikirannya yang dianggap benar ini sebenarnya salah.
10. Refuting the example
Menolak klaim dengan pernyataan yang bukan inti permasalahan.
11. Shifting ground
Menyangkal dengan alasan bahwa kalim awal bukan seperti itu maksudnya.
12. Shifting the burden of proof
Mengalihkan tanggung jawab atas bukti.
13. Special pleading
Menuntut double standar
14. The straw man
Bila tidak bisa membantah, hajar bersi extremnya.
15. The exception that proves the rule
Perkecualian yang malah tidak digunakan untuk membenarkan.
16. Trivial objection
Menyalahkan sesuatu yang jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele.
17. Unaccepted enthymemes
Menggunakan enthymemes untuk argumen.
18. Unobtainable perfection
Menyalahkan karena tidak sempurna.

Fallacies of Reasioning
Relevance – Ommision

1. Bogus dilemma
Seolah-olah hanya itulah pilihannya.
Maksudnya, hanya ada beberapa pilihan dan harus melakukan hal yang ada di dalam pilihan itu dan tidak dapat melakukan hal yang lainnya.
2. Concealed quantification
Pemberian atribut yang tidak jelas, apa ke seluruh kelas, atau beberapa anggotanya saja
Memberitahu kepada seseorang tentang suatu yang ambigu dan membuat orang yang diberitahu juga percaya dengan mudahnya.
3. Damning the alternatives
Seolah-olah satu pilihan benar karena pilihan yang lain salah.
Memberikan suatu pernyataan yang dimana di dalam pernyataan itu terdapat beberapa pilihan dan harus memilih. Tetapi sesuatu yang benar itu hanya satu. Sehingga mau tidak mau kita harus memilih hal itu.
4. Definitional retreat
Membela diri dari bantahan dengan mengubah definisi.
Memberikan pernyataan yang lain setelah mendengar pernyataan dari lawannya yang membuat dirinya salah dengan mengelak.
5. Extensional pruning
Membela diri dari bantahan dengan definisi tidak umum (atau arti literal).
6. Argumentum ad ignoratiam
Menyalahkan atau membenarkan klaim atas tidak adanya bukti.
7. Argumentum ad lapidem
Kepala batu.
Fallacy seperti ini tidak bisa dilawan. Orang yang berpegang pada ‘pokoknya’ tidak bisa di ajak bicara.
8. Argumentum ad nauseam
Menggunakan perulangan agar terlihat benar.
9. One-sided asessment
Hanya melihat satu sisi masalah
Tidak melhat dari sisi yang lain. Tidak tentu benar, karena mungkin saja pemikirannya yang dianggap benar ini sebenarnya salah.
10. Refuting the example
Menolak klaim dengan pernyataan yang bukan inti permasalahan.
11. Shifting ground
Menyangkal dengan alasan bahwa kalim awal bukan seperti itu maksudnya.
12. Shifting the burden of proof
Mengalihkan tanggung jawab atas bukti.
13. Special pleading
Menuntut double standar
14. The straw man
Bila tidak bisa membantah, hajar bersi extremnya.
15. The exception that proves the rule
Perkecualian yang malah tidak digunakan untuk membenarkan.
16. Trivial objection
Menyalahkan sesuatu yang jauh hubungannya, atau masalah-masalah sepele.
17. Unaccepted enthymemes
Menggunakan enthymemes untuk argumen.
18. Unobtainable perfection
Menyalahkan karena tidak sempurna.



Fallacies of Reasoning
Relevance – Intrusion

1. Blinding with science (menggunakan istilah ilmiah agar terlihat seolah benar)
2. Argumentum ad crumenam (kebenaran ditentukan oleh uang)
Contoh : pembeli adalah raja.
3. Emotional appeals (memanfaatkan emosi untuk mempengaruhi pendapat)
Contoh : Tidak mungkin dia bisa, ayo kita gunakan akal kita untuk mengalahkannya.
4. Every schollboy knows (lebih baik kamu setuju daripada dibilang oon)
Contoh : Anak SD saja tahu kalau Indonesia sudah masuk dalam 5 negara termiskin di dunia.
5. The genetic Fallacy (menilai kebenaran argumen berdasar siapa sumbernya)
Contoh : Keputusan menggusur rumah tempel itu berasal dari usulan para pengusaha real estate saja, jadi abaikan saja.
6. Argumentum ad hominem [abussive] (menyerang orangnya, bukan pendapatnya)
Contoh : Dia berusaha meyakinkan kita akan tidak memakai penyegar ruangan. Tapi jangan lupa beberapa tahun lalu dia dimasukkan ke penjara karena telah menyebarkan nama baik perusahaan makanan terkenal di Jakarta.
7. Argumentum ad hominem [circumstancial] (mempengaruhi pendapat dengan memanfaatkan posisi/kepentingan lawan)
Contoh : Apakah anda tidak ikut dalam pameran kali ini? Apabila anda ikut, anda akan bisa lebih dekat dengan manajemen kantor sehingga lebih mudah untuk membuka toko di sini.
8. Ignoratio elenchi (membenarkan satu pendapat karena berhasil membenarkan pendapat yang lain)
Contoh : Saya tidak setuju mahasiswa mengambil jurusan dual-degree, anda harus ingat pendidikan itu penting dan lebih baik tidak dipisah-pisahkan atau tidak setengah-setengah.
9. Irrelevant humour (guyonan digunakan untuk mengalihkan perhatian)
Contoh : Apa yang anda ketahui tentang saya? Jumlah uang saya??
10. Argumentum ad lazarum (orang miskin tidak selalu lebih baik daripada orang kaya)
Contoh : Tidak ada keuntungannya pengemis menipu orang, dia orang yang tidak mempunyai kemampuan apa-apa selain meminta pada orang lain.
11. Loaded words (mempengaruhi pendapat dengan kata-kata hebih penuh prasangka)
Contoh : Pejuang Indonesia melawan tentara Belanda pada jaman penjajahan.
12. Argumentum ad misericordiam (mempengaruhi pendapat berdasar kasihan)
Contoh : Tindaklanjuti terlebih dahulu kasusnya baru memasukkan tersangka ke penjara. Apakah karena mengirim e-mail ke teman saja bisa dimasukkan ke penjara.
13. Poisoning the well (menyerang sebelum lawan memberikan argumennya)
Contoh : Hanya orang atasan yang bodoh yang tidak tahu bahwa kebutuhan tiap hari para pegawai pabriknya mengalami peningkatan sehingga perlu kenaikan gaji.
14. The red herring (memberi fakta lain yang tidak berhubungan dan membuat kesimpulan tak tercapai)
Contoh : “Kamu melupakan hari jadi kita” “Apakah masalah proyek pembangunan gedung A telah berhasil kamu dapatkan?”
15. The runaway train (membawa argumen ke hal-hal yang jauh)
Fallacy ini mencoba membenarkan hal-hal yang tidak masuk akal berdasar pada prinsip yang sama.
Contoh : Mestinya pemerintah mensubsidi kegiatan belajar mengajar. Misalnya sekolah pedalaman. Sebab berat memperbaiki gedung sekolah yang hampir roboh dengan biaya kecil.
16. The slippery slope (menganggap satu tahap pasti diikuti tahap-tahap berikutnya)
Jadi, maksudnya ada tahap-tahap tertentu untuk mengetahui sesuatu dan itu memerlukan proses untuk mengetahuinya.
17. Tu quoque (menentang pendapat dengan menyalahkan lawan bahwa dia juga demikian)
Maksudnya, seseorang tidak mau dikatakan salah karena dia menganggap bahwa lawannya juga salah.
18. Argumentum ad verecundiam (menggunakan autoritas palsu)
Untuk mengubah cara pemikiran orang lain, seseorang menggunakan orang lain yang banyak dikenal oleh masyarakat supaya mempercayainya.
19. Wishful thinking (menentang/menyetujui pendapat berdasar keinginan kita)



{June 6, 2009}   Fallacies of Reasioning

Fallacies of Reasoning (Kesalahan dalam penalaran logika)

Ada 2 macam tipe yaitu : Formal Fallacy dan Informal Fallacy. Yang dimana Informal Fallacy juga dibedakan menjadi beberapa macam yaitu : Linguistic, Relevance-Omission, Relevance-Intrusion, Relevance-Presumption.

Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara Formal Fallacy dengan Informal Fallacy?

Formal Fallacy diakibatkan dari salah penalaran yang dimana dari premis A menuju kesimpulan B ada langkah yang salah atau hilang. Sedangkan Informal Fallacy menggunakan langkah yang benar menuju kesimpulan tetapi melibatkan hal yang tidak memenuh syarat (bahasa, arti ambigu, dsb).

Formal Fallacy

1. Affirming the consequent (menyimpulkan sebab dari akibat) Kita tidak bisa menyimpulkan sebab dari akibat, karena penyebab sesuatu bisa berasal dari banyak macam. Contoh : Bila terserang flu babi bisa berakibat kematian, disini ada orang mati, jadi di daerah ini ada flu babi yang sedang menular. 2. Conclusion which denies premises (kesimpulan yang berlawanan dengan premis) Bila ada 2 hal yang berlawanan, tidak mungkin keduanya benar. Bila mutually exclusive, salah satu pasti salah. Jika bukan, salah satu pasti salah atau keduanya salah.

Contoh : “Manakah yang terlebih dahulu ayam ataukah telur?”

“Telur karena ayam berasal dari telur terlebih dahulu” “Salah! Karena bukan telur yang diciptakan oleh Tuhan tetapi ayam!”

3. Contradictory premises (premis yang bertentangan)

Dua premis yang bertentangan tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar.

Contoh : Semua bunga tidak merugikan bunga lainnya, bunga rumput merugikan karena parasit, jadi bunga rumput bukan bunga.

4. Denying the antecedent (menentang debab untuk membalikkan akibat)

Contoh : bila aku minum obat terlalu banyak, aku akan keracunan. Aku minum obat sesuai dosis, maka aku akan sehat.

5. Exclussive premisses (menggunakan 2 premis negatif)

Contoh : beberapa mahasiswa tidak punya HP, beberapa mahasiswa yang tidak punya HP nge-kost, jadi beberapa mahasiswa nge-kost.

6. Existential fallacy (premis menyatakan ‘semua’, namun kesimpulan menyatakan ‘beberapa’, merayu orang percaya hbahwa premis benar)

Sepertinya semua benar, tetap sebenarnya dengan pemakaian ‘beberapa’ di kesimpulan, maka kita dipaksa untuk membenarkan keaddan barang yang disebut di premis. Pemakaian ‘beberapa’ berkesan ‘rendah hati’ dan memudahkan orang tergelincir untuk menganggap barang di premis ‘exist’.

Contoh : Semua orang menganggap rumah kosong itu angker ada penunggunya, tapi beberapa daari mereka lebih peka dan percaya rumah kosong itu ada penunggunya.

7. False conversion (membalik fakta yang mengandung ‘beberapa’)

Contoh : Beberapa makhluk fana adalah kucing, jadi beberapa kucing bukan makhluk fana.

8. Illicit process (satu atribut kelompok ini dan itu sama, bukan berarti atribut yang lain juga sama)

Contoh : Pengacara adalah orang yang membela orang lain, semua pengacara banyak bicara, jadi semua pengacara banyak bicara.

9. Positive conclusion, negative premise (kesimpulan positif berdasar 2 premis diaman salah satunya adalah negatif)

Walau benar, namun kesimpulan harus tetap negatif. Walau benar tapi tendensinya berbeda.

Contoh : Beberapa harimau tidak bisa berenang, harimau adalah hewan, jadi beberapa hewan itu bisa berenang.

10. Quaternio terminorum (empat pernyataan)

Contoh : Dokter itu ayah Ali, Ali itu adik Budi, jadi Budi anak seorang dokter.

11. Undistributed middle (ciri kelas diambil sebagian untuk menyamakan kedua kelas)

Contoh : Semua manusia evolusi dari monyet, semua monyet mamalia, jadi semua manusia adalah monyet.



et cetera
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.