Fallacies of Reasoning (Kesalahan dalam penalaran logika)
Ada 2 macam tipe yaitu : Formal Fallacy dan Informal Fallacy. Yang dimana Informal Fallacy juga dibedakan menjadi beberapa macam yaitu : Linguistic, Relevance-Omission, Relevance-Intrusion, Relevance-Presumption.
Apa yang menyebabkan terjadinya perbedaan antara Formal Fallacy dengan Informal Fallacy?
Formal Fallacy diakibatkan dari salah penalaran yang dimana dari premis A menuju kesimpulan B ada langkah yang salah atau hilang. Sedangkan Informal Fallacy menggunakan langkah yang benar menuju kesimpulan tetapi melibatkan hal yang tidak memenuh syarat (bahasa, arti ambigu, dsb).
Formal Fallacy
1. Affirming the consequent (menyimpulkan sebab dari akibat) Kita tidak bisa menyimpulkan sebab dari akibat, karena penyebab sesuatu bisa berasal dari banyak macam. Contoh : Bila terserang flu babi bisa berakibat kematian, disini ada orang mati, jadi di daerah ini ada flu babi yang sedang menular. 2. Conclusion which denies premises (kesimpulan yang berlawanan dengan premis) Bila ada 2 hal yang berlawanan, tidak mungkin keduanya benar. Bila mutually exclusive, salah satu pasti salah. Jika bukan, salah satu pasti salah atau keduanya salah.
Contoh : “Manakah yang terlebih dahulu ayam ataukah telur?”
“Telur karena ayam berasal dari telur terlebih dahulu” “Salah! Karena bukan telur yang diciptakan oleh Tuhan tetapi ayam!”
3. Contradictory premises (premis yang bertentangan)
Dua premis yang bertentangan tidak akan menghasilkan kesimpulan yang benar.
Contoh : Semua bunga tidak merugikan bunga lainnya, bunga rumput merugikan karena parasit, jadi bunga rumput bukan bunga.
4. Denying the antecedent (menentang debab untuk membalikkan akibat)
Contoh : bila aku minum obat terlalu banyak, aku akan keracunan. Aku minum obat sesuai dosis, maka aku akan sehat.
5. Exclussive premisses (menggunakan 2 premis negatif)
Contoh : beberapa mahasiswa tidak punya HP, beberapa mahasiswa yang tidak punya HP nge-kost, jadi beberapa mahasiswa nge-kost.
6. Existential fallacy (premis menyatakan ‘semua’, namun kesimpulan menyatakan ‘beberapa’, merayu orang percaya hbahwa premis benar)
Sepertinya semua benar, tetap sebenarnya dengan pemakaian ‘beberapa’ di kesimpulan, maka kita dipaksa untuk membenarkan keaddan barang yang disebut di premis. Pemakaian ‘beberapa’ berkesan ‘rendah hati’ dan memudahkan orang tergelincir untuk menganggap barang di premis ‘exist’.
Contoh : Semua orang menganggap rumah kosong itu angker ada penunggunya, tapi beberapa daari mereka lebih peka dan percaya rumah kosong itu ada penunggunya.
7. False conversion (membalik fakta yang mengandung ‘beberapa’)
Contoh : Beberapa makhluk fana adalah kucing, jadi beberapa kucing bukan makhluk fana.
8. Illicit process (satu atribut kelompok ini dan itu sama, bukan berarti atribut yang lain juga sama)
Contoh : Pengacara adalah orang yang membela orang lain, semua pengacara banyak bicara, jadi semua pengacara banyak bicara.
9. Positive conclusion, negative premise (kesimpulan positif berdasar 2 premis diaman salah satunya adalah negatif)
Walau benar, namun kesimpulan harus tetap negatif. Walau benar tapi tendensinya berbeda.
Contoh : Beberapa harimau tidak bisa berenang, harimau adalah hewan, jadi beberapa hewan itu bisa berenang.
10. Quaternio terminorum (empat pernyataan)
Contoh : Dokter itu ayah Ali, Ali itu adik Budi, jadi Budi anak seorang dokter.
11. Undistributed middle (ciri kelas diambil sebagian untuk menyamakan kedua kelas)
Contoh : Semua manusia evolusi dari monyet, semua monyet mamalia, jadi semua manusia adalah monyet.